Provinsi Nusa Tenggara Barat

Nusa Tenggara Barat

Indonesia memiliki Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar diantaranya; mini/micro hydro sebesar 450 MW, Biomass 50 GW, energy surya 4,80 kMh/m2/hari, energy angin 3-6 m/det dan energy nuklir 3 GW (Kementerian ESDM, 2015). 

Potensi ini merupakan kekayaan alam yang bernilai strategis dan sangat penting untuk mendukung keberlanjutan kegiatan ekonomi. Mengingat peran strategis sumberdaya energi, pengelolaan energi yang meliputi penyediaan, pemanfaatan dan pengusahaannya harus dilakukan secara berkeadilan, berkelanjutan, dan optimal agar dapat memberikan nilai tambah yang sebesar besarnya bagi kesejahteraan rakyat.  

Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki potensi energi terbarukan yang cukup melimpah, di antaranya energi air, panas bumi, angin, biomassa, biogas dan surya. Khusus untuk pulau Sumbawa, potensi energi hidro mencapai 67,5 Mega Watt, selain itu Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Panas Bumi Dompu sebesar 70 MW dan WKP Sembalun 69 MW. Meskipun memiliki potensi energi terbarukan yang melimpah namun pemanfaatannya baru dilakukan secara terbatas karena pertimbangan biaya dan teknologi yang terbatas.

Yayasan BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia) Makassar sebagai lembaga yang berfokus pada pertukaran pengetahuan, adalah salah satu penerima hibah Proyek Pengetahuan Hijau MCA-Indonesia. Proyek Pengetahuan Hijau MCA-Indonesia ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya lokal, provinsi dan nasional guna mendorong strategi pembangunan rendah karbon Indonesia sesuai dengan konteks Proyek Kemakmuran Hijau.

Dalam Proyek Pengetahuan Hijau, BaKTI berperan sebagai pengelola pengetahuan  dari kegiatan-kegiatan Proyek Pengetahuan Hijau dan penerima hibah Proyek Kemakmuran Hijau dengan wilayah kerja 4 provinsi : Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Jambi. Proses pengumpulan, dokumentasi, dan penyebaran pengetahuan hijau yang dilakukan BaKTI akan melibatkan penerima beragam hibah Proyek Kemakmuran Hijau, jejaringnya yang luas, media dan acara yang dapat menjangkau banyak pemangku kepentingan dan penerima manfaat dengan cara agar informasi mudah diadopsi di tingkat nasional dan lokal.

Terkait peran sebagai pengelola pengetahuan dalam proyek ini, BaKTI memfasilitasi Diskusi Praktik Cerdas Hijau sebagai media untuk curah ide dan praktik cerdas serta tular pengalaman dalam menerapkan upaya-upaya pelestarian daerah pesisir dengan mengangkat topik ”Potensi dan Tantangan Energi Baru Terbarukan di Nusa Tenggara Barat” yang dilaksanakan pada tanggal 30 November lalu bertempat di Aula Kantor Bappeda Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. 

Diskusi ini dihadiri oleh 46 peserta perwakilan dari Bappeda Lombok Timur, Dinas Perikanan dan Kelautan,, Dinas Peternakan, ESDM, SMK, LSM Lokal, Media, Akademisi dari Lombok Timur, Mataram, Lombok Tengah dan Lombok Utara serta perwakilan dari District Relationship Manager 3 kabupaten wilaha kerja MCA-Indonesia NTB. Diskusi ini dibuka oleh Kepala Bappeda Lombok Timur Bapak Ahmad Dewanto Hadi, ST, MT dan narasumber dalam diskusi ini yang sekaligus juga sebagai mitra penerima hibah pengetahuan hijau yakni Tri Rachmanto dari Program PEKA SINERGI dan Bapak Umar dari HiVOS dan Konsorsium Yayasan Rumah Energi.

Dalam pemaparannya Pak Umar menjelaskan mengenai implementasi program Biogas Rumah (BIRU) di Nusa Tenggara Barat. Mengawali presentasi beliau mengenai program BIRU yang merupakan kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda, yang dilaksanakan oleh DJEBTKE sebagai perwakilan pihak Indonesia dan HIVOS Regional Office Southeast Asia sebagai perwakilan pihak Belanda, serta SNV sebagai penasehat teknis. Program ini bertujuan untuk Untuk menyebarluaskan teknologi Biogas Rumah  sebagai sumber energi lokal yang ramah lingkungan & berkelanjutan, melalui pengembangan sektor yang komersial yang berorientasi pasar di Indonesia.  

Program BIRU di Indonesia sejak tahun 2009, sampai Oktober 2015 sudah membangun reaktor biogas sebanyak 3,243 unit yang tersebar di semua kabupaten di Nusa Tenggara Barat. Berangkat dari potensi sumber energy yang melimpah yakni kotoran ternak di NTB, sejalan dengan Program Bumi Sejuta Sapi (BSS), di sisi lain akses memperoleh energi masih terbatas terutama di daerah-daerah pelosok/terpencil, ditambah dengan kandungan utama Biogas yakni Gas Methane (CH4) yang memiliki tingkat pencemaran 21 kali lebih kuat dibandingkan CO2 dan menyebabkan pemanasan global. Untuk itu, dirasa sangat perlu untuk memanfaatkan sumber energi ini melalui pemanfaatan biogas untuk mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan dengan pemanfaatan limbah ternak untuk penyediaan pupuk yang pada akhirnya dapat meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Ada banyak kegunaan yang diperoleh dari pemanfaatan biogas ini. Khusus untuk pengguna biogas; dapat menghasilkan bahan bakar gas untuk memasak & penerangan, meningkatkan nilai pendapatan dari pemanfaatan ampas biogas sebagai pupuk organik / pakan organik. Bagi masyarakat dapat mendorong tumbuhnya industry peralatan biogas, membuka lapangan kerja dan industry kecil yang berbasis biogas serta menciptakan lingkungan bersih dan sehat karena limbah tertangani dengan baik. Bagi lingkungan; mengurangi emisi gas metan (CH4) ke atmosfer hasil dekomposisi sisa-sisa metabolisme mahkluk hidup & limbah organik lainnya dan mampu mengurangi dampak perubahan iklim dan global warming.

Pengguna tidak mendapatkan Biogas gratis, Program BIRU menyediakan subsidi untuk pembangunan reaktor biogas sebesar 2 juta dan 2,5 juta, subsidi tersebut diberikan dalam bentuk peralatan biogas, operational fee untuk mitra pembangunan dan maintenance fee untuk pasca konstruksi selama 3 tahun. Apabila pihak ketiga berminat bekerjasama membangun biogas, maka dapat dilakukan dengan mekanisme sharing pembiayaan (30 % konstribusi masyarakat + HIVOS 2 juta + sisa dana pihak ketiga). Tantangan ke depan program ini adalah ketersediaan ternak secara kontinyu, pengolahan dan pemanfaatan ampas biogas secara terpadu serta reactor gratis dari pemerintah/pihak lainnya, karena dianggap program gratis tidak mengedukasi masyarakat.

Selain pemanfaatan biogas, HiVOS dan Konsorsium Yayasan Rumah Energi juga mengembangkan Bio-Slurry atau ampas biogas merupakan produk dari hasil pengolahan biogas berbahan kotoran ternak dan air melalui proses tanpa oksigen (anaerobik) di dalam ruang tertutup yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organic yang telah terbukti baik untuk menyuburkan lahan dan meningkatkan produksi tanaman budi daya.

Pada kesempatan ini pula, hadir salah satu penerima manfaat Bapak Marzuki (Petani Perkebunan Desa Pesangrahan Montong Gading Lombok Timur). Dalam testimoni beliau, awal ketertarikan beliau setelah mendengarkan cerita dari keluarga beliau yang menggunakan biogas. Akhirnya membentuk kelompok, dan diberi pelatihan oleh Yayasan Rumah Energi  dan selanjutnya dibuatkan reactor dengan keringanan pembiayaan yang disubsidi oleh YRE. Keuntungan yang diperoleh dari biogas ini selain untuk memasak juga dimanfaatkan untuk membuat pakan ternak dari ampas kotoran ternak/duckweed/kembang aik. “Sampai sekarang saya tidak membeli gas lagi dan dulu saya mengeluarkan 1.500.000 untuk membeli pakan ternak, sekarang cukup 25.000 sebulan” ujar Pak Marzuki.

Kalau Pemadam Kebakaran memiliki motto “Pantang pulang sebelum api padam, di BIRU pantang pulang sebelum api menyala” menutup presentasi Pak Umar.
Narasumber kedua berbicara mengenai kesiapan SDM dalam mengelola dan memanfaatkan energi baru terbarukan di Nusa Tenggara Barat. Melihat fakta Energi Baru Terbarukan (EBT) di NTB yang cukup melimpah, sanggupkah SDM mengolah dan memanfaatkan? Dari pertanyaan ini, PEKA SINERGI (Proyek Pelatihan dan Sertifikasi Profesi Teknologi Energi Terbarukan) merupakan Gabungan Konsorsium KM Utama, Universitas Mataram dan Technical Education Development Centre (TEDC) Bandung. 

Melalui program ini diharapkan  membangun sistem pelatihan, sertifikasi dan akreditasi untuk tenaga kerja profesional di bidang aneka energi terbarukan. Tantangan selama ini, pelatihan yang dilakukan tidak disertai sertifikasi yang terakreditasi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sejak tahun 2007, Universitas Mataram melakukan beberapa kegiatan terkait energy baru terbarukan diantaranya pada kurikulum SMK 2013 pada bidang keahlian teknologi dan rekayasa telah ditambahkan Teknik Energi terbarukan dengan 3 Paket keahlian : Teknik Energi hidro 060, Teknik Energi Surya dan Angin 061, serta Teknik Energi Biomassa 062. Selain itu, penyusunan buku teks bahan ajar siswa SMK. 

Pada tahun 2011 didirikan Laboratorium EBT di Fakultas Teknik yang siap memberikan pelatihan dengan materi  : Mikrohidro, Matahari termal, Matahari photovoltaic, Biomassa, Angin dan Biogas kepada Mahasiswa Fakultas Teknik tingkat, Staff Dinas Terkait, Tenaga pendidik dan masyarakat umum. Melalui program PEKA SINERGI, akan dikembangkan standar kompetensi nasional untuk Aneka Energi Terbarukan,  memperkuat pelatihan Tekhnologi Energi Terbarukan (TET), mendirikan  tempat uji kompetensi (TUK) di UNRAM dan TEDC, membentuk lembaga sertifikasi profesi (LSP), melatih asesor dalam kompetensi TET. Sehingga diakhir program dapat menghasilkan SDM yang tersertifikasi kompetensi TET.

Isu yang menarik dari diskusi ini adalah bagaimana mengemas potensi sumber EBT di NTB yang melimpah sebagai potensi pendapatan yang dikembangkan oleh masyarakat, tidak menutup kemungkinan mampu menjadi supplier energi bagi PLN.