Provinsi Maluku Utara

Maluku Utara

Provinsi Maluku Utara merupakan daerah hasil pemekaran dari Provinsi Maluku yang resmi berpisah pada tanggal 12 Oktober 1999. Provinsi Maluku Utara berada diantara 3º Lintang Utara sampai 3º Lintang Selatan dan 124º – 129º Bujur Timur. Provinsi Maluku Utara merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari 805 buah pulau besar dan kecil, sekitar 82 pulau yang dihuni dan 723 pulau yang belum dihuni.
Luas wilayah Provinsi Maluku Utara 145.801,10 km2, terdiri dari luas lautan 113.796,53 km2 atau 69,08 persen dan luas daratan 32.004,57 km 2 atau 30,92 persen.

Provinsi Maluku Utara secara administratif memiliki batas wilayah sebagai berikut:
– Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Halmahera;
– Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Maluku;
– Sebelah Utara berbatasan dengan Samudera Pasifik; dan
– Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Seram.

Penduduk Provinsi Maluku Utara berdasarkan Sensus Penduduk (SP) Tahun 2010 sebanyak 1.038.087 jiwa dan sampai tahun 2013 berjumlah 1.114.897 jiwa, yang terdiri dari penduduk laki-laki sebanyak 569.264 jiwa dan penduduk perempuan 545.633 jiwa.

Jika dibandingkan dengan luas wilayah maka tingkat kepadatan penduduk mencapai 24,74 jiwa/km2 . Terdapat empat kabupaten/kota yang mempunyai kepadatan penduduk lebih tinggi dari kepadatan penduduk provinsi, yaitu Ternate (807,89 jiwa per km2), Halmahera Utara (55,26 jiwa per km?2;), Halmahera Barat (40,91 jiwa per km?2;), dan Pulau Morotai (24,85 jiwa per km 2 ).

Laju pertumbuhan rata-rata 2,24 persen pertahun pada periode 2010-2013. Penyebaran penduduk tidak merata dan hanya terpusat pada pulau-pulau kecil, sedangkan beberapa pulau besar dan sedang tidak mengalami peningkatan yang signifikan seperti di Kepulauan Sula (Pulau Taliabu, Sulabesi dan Mangoli) serta Halmahera secara keseluruhan yang terdiri dari Halut, Halbar, Halteng, Haltim, dan beberapa pulau di Halmahera Selatan (Pulau Obi, Morotai, Bacan, Makian dan Kayoa).

NEWSWANTARA – Sebagai salah satu Provinsi yang ada di Indonesia, Maluku Utara resmi terbentuk pada tanggal 4 Oktober 1999, melalui UU RI Nomor 46 Tahun 1999 dan UU RI Nomor 6 Tahun 2003. Sebelum resmi menjadi sebuah provinsi, Maluku Utara merupakan bagian dari Provinsi Maluku, yaitu Kabupaten Maluku Utara yang resmi berpisah dari Provinsi Maluku pada tanggal 12 Oktober 1999.
Pada awal pendiriannya, Provinsi Maluku Utara beribukota sementara di Ternate, yang berlokasi di kaki Gunung Gamalama. Ternate menjadi ibukota dari Provinsi Maluku selama 11 tahun. Setelah 11 tahun masa transisi dan persiapan infrastruktur, tepatnya sampai dengan 4 Agustus 2010, ibukota Provinsi Maluku Utara secara resmi dipindahkan ke Kota Sofifi yang terletak di Pulau Halmahera, yang merupakan pulau terbesar yang ada di Maluku utara.

Maluku Utara menyimpan potensi ekonomi yang sangat kuat, dan letaknya di bibir Samudra Pasifik, sehingga di masa yang akan datang wilayah ini berpeluang meraih beragam keuntungan ekonomi, khususnya dalam percaturan Pasar Pasifik.
Maluku Utara atau yang akrab disebut dengan Maloku Kei Raha, diartikan sebagai gugusan empat pulau bergunung dengan potensi berlimpah yang dimiliki. Mulai dari sektor perkebunan, perikanan, hingga pertambangan.

Siapa pun yang melakukan pendekatan ekonomi di provinsi ini akan tiba pada kesimpulan yang sama, yaitu Maluku Utara menyimpan potensi ekonomi yang sangat kuat, dan letaknya di bibir Samudra Pasifik, sehingga di masa yang akan datang wilayah ini berpeluang meraih beragam keuntungan dari sektor ekonomi.
 festival jailolo, yang diadakan untuk mengingat/bernostalgia masa-masa kejayaan Maluku Utara yang menjadi pusat dagang dunia dan menjadi incaran bangsa Eropa seperti Portugis dan Spanyol karena mempunyai pohon-pohon emas (rempah-rempah).

Potensi perkebunan di Provinsi Maluku utara yang cukup berkembang adalah perkebunan kakao (pohon cokelat), kelapa, serta tanaman rempah-rempah seperti misalnya cengkeh. Dari seluruh wilayah yang ada di Provinsi Maluku Utara, kabupaten yang paling produktif menghasilkan komoditas perkebunan antara lain adalah Kabupaten Halmahera Selatan, Halmahera Utara, dan Halmahera Barat.
Bahkan hasil produksi tanaman kakao Maluku Utara kini berhasil menembus pasar ekspor, dan mendatangkan devisa bagi negara serta menjadi sumber pendapatan tambahan bagi pemerintah daerah setempat.

Potensi bisnis tanaman kakao semakin terbuka, dengan meningkatnya permintaan pada level domestik maupun internasional. Untuk bisa menguasai pasar Internasional, pengelolaan dari kakao itu sendiri harus melewati proses fermentasi. Dengan proses fermentasi harga jual biji kakao akan meningkat.

Sedangkan yang tidak melalui proses fermentasi, harga jualnya lebih murah dengan selisih sekitar 2ribu hingga 3ribu rupiah per kilonya. Dimana jika ditaksir secara total, biji kakao yang diolah melalui proses fermentasi tersebut jelas lebih memberi keuntungan besar bagi petani daripada yang tidak diolah melalui proses fermentasi.

Pada sektor kelautan dan perikanan, potensi yang dimiliki Maluku Utara bernilai milyaran dollar. Perairan Maluku Utara merupakan tempat tumbuh besarnya ikan sejenis cakalang dan tuna. Sesuai siklusnya, cakalang dan tuna bertelur di perairan Jepang dan dibawa oleh arus ke selatan hingga ke perairan Maluku, termasuk Sulawesi dan Teluk Tomini. Sampai di perairan Indonesia, kedua jenis ikan itu sudah siap makan. Tidak heran jika di perairan ini seringkali ditemukan banyak kapal ikan asing berbaju domestik. 

Potensi ekonomi Maluku Utara menjadi semakin lengkap dengan kekayaan tambang nikel kadar N1 (1,5%-2,5%). Besar potensi nikel yang sudah diketahui berkisar 220 juta ton yang tersebar di Tanjung Buli, Pulau Gebe, Pulau Gee, Pulau Pakal, Pulau Obi, dan Teluk Weda. Salah satu lokasi di antaranya yang sudah ditambang adalah Pulau Gebe.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh PT Halmahera Minerals, tambang emas yang dikandung Maluku Utara berkisar 1,4 juta ton dengan kadar layak tambang.

Penambangan emas di tambang bawah tanah Gosowong, Halmahera, Maluku Utara/

Sumber daya geologis lainnya terdapat di Pulau Obi yang diperkirakan mengandung 6,8 juta ton. Kandungan sumber daya geologis terbesar ditemukan di Pulau Bacan berkisar 70 juta ton. Tembaga yang tersimpan di perut Bumi Maluku Utara berkisar 70 juta ton, belum lagi mineral mangan, kromit, batu gamping, kalsit, bentonit, diatome, talk, kaolin, perlit, magnesit, andesit, sirtu, batu apung, diorit, dan beragam batu mulia.

Konflik horizontal yang pernah terjadi di Maluku pasca transisi politik 1998 biarlah termaafkan oleh ingatan. Kesengsaraan akibat perang saudara telah membuat daerah ini makin tertinggal. Peperang bukan jalan keluar menilai mana yang kuat dan mana yang lemah. Bijak menghadapi persoalan dilakukan dengan bijak dalam melihat persoalan itu sendiri. Persoalan tersebut harus diselesaikan secara bersama-sama. Berjalan bersama akan meringankan dalam menghadapi masalah yang walaupun itu terlihat besar.

Menciptakan stabilitas di semua bidang kehidupan masyarakat merupakan sebuah tindakan nyata yang harus dilakukan oleh semua pihak yang terkait. Bagi kalangan investor dan pihak-pihak yang berminat ikut ambil bagian dalam memajukan Maluku Utara, dasar stabilitas merupakan prasyarat utama. Sehingga dibutuhkan sebuah kerja keras untuk bersatu membangun stabilitas di semua bidang guna menciptakan Maluku Utara ke arah yang lebih baik.